Kehidupan
Baru Rena
Karya :
Asiyah Mulyaningrum
Sekitar 1 tahun yang lalu, sepulang sekolah, Rena mendapatkan
kabar bahwa ibunya, yaitu Bu Sari terjatuh. Peristiwa itu bermula ketika Bu
Sari yang baru mengenakan sepatu barunya, terpeleset ketika akan menjemput adik
Rena yang bernama Risa. Hal tersebut dikarenakan sepatu yang baru dikenakan
sangat licin ketika dipakai.
Sesampai di rumah, Rena melihat kaki
Bu Sari sudah membesar. Lalu ia bertanya kepada Bu Sari, apakah kaki tersebut
sudah terobati.
“Ibu, sudah diobati belum kakinya?“
tanya Rena
“Tadi sudah diurut, Nak. Tapi nggak
tau ini, kenapa kakinya masih terus membengkak.” jawab Bu Sari
“Kenapa nggak diperiksain ke rumah
sakit saja, Bu?” tanya Rena kembali
“Coba kamu tanyakan ke bapak, ia mau
mengantar atau tidak”
Rena pun menuju ke ruang bapaknya,
yang bernama Pak Firman. Sesampai di sana, terlihat sekali Pak Firman sedang
capek dan mengantuk sepulang dari kantor. Tetapi, Rena tetap memaksakan diri
untuk mengajak bapaknya pergi ke rumah sakit.
“Pak, ayo ke rumah sakit, mriksain
kaki ibu!” ajak Rena
“Nanti dulu aja, Nak, Bapak masih
capek. Biasanya kan kalau sudah diurut, lama kelamaan sembuh.” jawab Pak Firman
Rena pun kembali menuju kamar,
disana Bu Sari terlihat lemas. Ternyata, badan Bu Sari demam, dan kakinya
sangat sakit untuk digerakkan. Akhirnya, Rena memberi tahu kepada bapaknya, dan
Pak Firman pun akan mengantarkan ke rumah sakit setelah shalat maghrib.
Setelah semua selesai shalat
maghrib, mereka sekeluarga menuju ke rumah sakit. Kaki Bu Rena dironsen,
hasilnya ada bagian yang retak dan harus dioperasi malam itu juga.
Setelah operasi, dokter dan Pak
Firman membicarakan mengenai kaki Bu Sari.
“Pak, Bu Sari harus menggunakan kruk
selama 3 bulan. 2 bulan pertama menggunakan 2 kruk dan 1 bulan berikutnya dapat
menggunakan 1 kruk.” kata dokter
“ Baik, Pak Dokter, terima kasih.”
Jawab Pak Firman
Pak Firman, Rena, dan Risa sangat
sedih. Mereka semua memikirkan kehidupan yang akan dijalani selama Bu Sari
masih menggunakan kruk.
Setelah pulang dari rumah sakit, Pak
Firman, Rena, dan Risa yang biasanya meminta bantuan Bu Sari, sekarang
berkebalikan menjadi Bu Sari yang meminta bantuan mereka.
Setiap hari, Pak Firman harus
meluangkan waktu kerjanya untuk menjemput Rena dan Risa. Karena Rena selalu
pulang sekolah pada siang hari, ketika Pak Firman sedang sibuk bekerja,
akhirnya Pak Firman mengatakan bahwa ia tak sanggup untuk menjemput Rena.
“Nak, bagaimana kalau kamu pulang
sekolah naik bis saja? Karena, disaat kamu pulang sekolah, bapak sedang sibuk.”
tanya Pak Firman dangan nada sedih
“Iya nggak papa, Pak, temen sekelasku
juga ada yang pulang naik bis. Nanti aku akan ngajak dia untuk naik bis
bersama.” jawabnya agak kecewa
“Makasih ya, Nak. Kamu mengerti kan
keadaan saat ini?”
“Ya, Pak, Rena ngerti kok”
Keesokan harinya, Rena mendapat
sangu tambahan untuk naik bis ketika pulang sekolah. Sebenarnya ia sangat takut
untuk naik bis dan selalu membayangkan hal hal buruk ketika berada dalam bis.
Sesampai di sekolah, Rena bertanya
kepada teman sekelasnya yang selalu naik bis, yaitu Syifa.
“Syif, nanti pulang sekolah kamu
naik bis?” tanya Rena
“Iya. Aku kan setiap hari naik bis.
Kenapa memangnya?” tanya Syifa balik
“Nanti aku juga pulang naik bis.
Nanti pulang bareng ya!”
“Baiklah, Ren.”
Sepulang sekolah, Rena dan Syifa
menuju ke halte bersamaan. Syifa turun terlebih dahulu. Setelah sampai
terminal, Rena turun dan mencari angkutan kota jurusan rumahnya.
Ketika sampai di rumah, Rena sangat
senang, karena ia bisa pulang sendiri. Naik bis ternyata tidak seburuk apa yang
ia bayangkan. Lama - kelamaan, ia berani pulang tanpa Syifa, ia pun juga
mendapat banyak teman yang juga naik bis sepulang sekolah.
Selama 3 bulan Bu Sari menggunakan
kruk, dan tidak bisa melakukan kegiatan yang biasa ia lakukan, kehidupan Rena
banyak berubah, ia menjadi lebih mandiri. Ia jadi berani pulang naik bis,
sering menyapu rumahnya, sering mencuci piring, dan tak jarang ia mengepel
lantai rumahnya.