Selasa, 06 Januari 2015

Kehidupan Baru Rena
Karya : Asiyah Mulyaningrum

Sekitar 1 tahun yang lalu, sepulang sekolah, Rena mendapatkan kabar bahwa ibunya, yaitu Bu Sari terjatuh. Peristiwa itu bermula ketika Bu Sari yang baru mengenakan sepatu barunya, terpeleset ketika akan menjemput adik Rena yang bernama Risa. Hal tersebut dikarenakan sepatu yang baru dikenakan sangat licin ketika dipakai.
            Sesampai di rumah, Rena melihat kaki Bu Sari sudah membesar. Lalu ia bertanya kepada Bu Sari, apakah kaki tersebut sudah terobati.
            “Ibu, sudah diobati belum kakinya?“ tanya Rena
            “Tadi sudah diurut, Nak. Tapi nggak tau ini, kenapa kakinya masih terus membengkak.” jawab Bu Sari
            “Kenapa nggak diperiksain ke rumah sakit saja, Bu?” tanya Rena kembali
            “Coba kamu tanyakan ke bapak, ia mau mengantar atau tidak”
            Rena pun menuju ke ruang bapaknya, yang bernama Pak Firman. Sesampai di sana, terlihat sekali Pak Firman sedang capek dan mengantuk sepulang dari kantor. Tetapi, Rena tetap memaksakan diri untuk mengajak bapaknya pergi ke rumah sakit.
            “Pak, ayo ke rumah sakit, mriksain kaki ibu!” ajak Rena
            “Nanti dulu aja, Nak, Bapak masih capek. Biasanya kan kalau sudah diurut, lama kelamaan sembuh.” jawab Pak Firman
            Rena pun kembali menuju kamar, disana Bu Sari terlihat lemas. Ternyata, badan Bu Sari demam, dan kakinya sangat sakit untuk digerakkan. Akhirnya, Rena memberi tahu kepada bapaknya, dan Pak Firman pun akan mengantarkan ke rumah sakit setelah shalat maghrib.
            Setelah semua selesai shalat maghrib, mereka sekeluarga menuju ke rumah sakit. Kaki Bu Rena dironsen, hasilnya ada bagian yang retak dan harus dioperasi malam itu juga.
            Setelah operasi, dokter dan Pak Firman membicarakan mengenai kaki Bu Sari.
            “Pak, Bu Sari harus menggunakan kruk selama 3 bulan. 2 bulan pertama menggunakan 2 kruk dan 1 bulan berikutnya dapat menggunakan 1 kruk.” kata dokter
            “ Baik, Pak Dokter, terima kasih.” Jawab Pak Firman
            Pak Firman, Rena, dan Risa sangat sedih. Mereka semua memikirkan kehidupan yang akan dijalani selama Bu Sari masih menggunakan kruk.
            Setelah pulang dari rumah sakit, Pak Firman, Rena, dan Risa yang biasanya meminta bantuan Bu Sari, sekarang berkebalikan menjadi Bu Sari yang meminta bantuan mereka.
            Setiap hari, Pak Firman harus meluangkan waktu kerjanya untuk menjemput Rena dan Risa. Karena Rena selalu pulang sekolah pada siang hari, ketika Pak Firman sedang sibuk bekerja, akhirnya Pak Firman mengatakan bahwa ia tak sanggup untuk menjemput Rena.
            “Nak, bagaimana kalau kamu pulang sekolah naik bis saja? Karena, disaat kamu pulang sekolah, bapak sedang sibuk.” tanya Pak Firman dangan nada sedih
            “Iya nggak papa, Pak, temen sekelasku juga ada yang pulang naik bis. Nanti aku akan ngajak dia untuk naik bis bersama.” jawabnya agak kecewa
            “Makasih ya, Nak. Kamu mengerti kan keadaan saat ini?”
            “Ya, Pak, Rena ngerti kok”
            Keesokan harinya, Rena mendapat sangu tambahan untuk naik bis ketika pulang sekolah. Sebenarnya ia sangat takut untuk naik bis dan selalu membayangkan hal hal buruk ketika berada dalam bis.
            Sesampai di sekolah, Rena bertanya kepada teman sekelasnya yang selalu naik bis, yaitu Syifa.
            “Syif, nanti pulang sekolah kamu naik bis?” tanya Rena
            “Iya. Aku kan setiap hari naik bis. Kenapa memangnya?” tanya Syifa balik
            “Nanti aku juga pulang naik bis. Nanti pulang bareng ya!”
            “Baiklah, Ren.”
            Sepulang sekolah, Rena dan Syifa menuju ke halte bersamaan. Syifa turun terlebih dahulu. Setelah sampai terminal, Rena turun dan mencari angkutan kota jurusan rumahnya.
            Ketika sampai di rumah, Rena sangat senang, karena ia bisa pulang sendiri. Naik bis ternyata tidak seburuk apa yang ia bayangkan. Lama - kelamaan, ia berani pulang tanpa Syifa, ia pun juga mendapat banyak teman yang juga naik bis sepulang sekolah.
            Selama 3 bulan Bu Sari menggunakan kruk, dan tidak bisa melakukan kegiatan yang biasa ia lakukan, kehidupan Rena banyak berubah, ia menjadi lebih mandiri. Ia jadi berani pulang naik bis, sering menyapu rumahnya, sering mencuci piring, dan tak jarang ia mengepel lantai rumahnya.